Ketika mendengar nama Sangiran, kebanyakan orang langsung membayangkan tengkorak Homo erectus. Wajar saja, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu situs manusia purba terpenting di dunia.
Namun, koleksi Sangiran sebenarnya jauh lebih beragam daripada fosil manusia. Di dalam lapisan tanahnya ditemukan fosil gajah berukuran besar, kerbau bertanduk panjang, badak, rusa, babi, kuda nil, buaya, kura-kura, ikan, serta ribuan cangkang moluska.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Sangiran pernah dihuni oleh komunitas hewan yang sangat kaya. Jenis-jenis fosil hewan purba yang ditemukan di Sangiran juga menjadi petunjuk perubahan lingkungan.
Ada hewan yang menunjukkan keberadaan laut, rawa, sungai, hutan lebat, hingga padang rumput terbuka. Jadi, fosil fauna bukan sekadar pelengkap cerita Homo erectus.
Melalui tulang, gigi, tanduk, tempurung, dan cangkang, peneliti dapat menyusun gambaran tentang Jawa jutaan tahun lalu serta kondisi alam yang dihadapi manusia purba.
Sangiran Bukan Hanya Situs Fosil Manusia
Situs Sangiran mencakup kawasan sekitar 5.600 hektare di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Lapisan geologinya merekam perubahan manusia, fauna, budaya, dan lingkungan selama kurang lebih 2,4 juta tahun.
Bayangkan lapisan tanah Sangiran seperti lembaran buku. Pada lapisan tertua terdapat jejak lingkungan laut. Lapisan yang lebih muda memperlihatkan perubahan menuju rawa, sungai, hutan, dan daratan terbuka.
Fosil hewan ditemukan hampir di seluruh susunan tersebut, dari Formasi Kalibeng yang tua hingga lapisan daratan Plestosen.
Buku resmi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menjelaskan bahwa perubahan fauna dapat dibaca melalui posisi temuan di dalam lapisan tanah.
Karena fosil berasal dari periode yang berbeda, hewan-hewan tersebut tidak selalu hidup bersamaan. Gajah purba dari satu lapisan mungkin berumur jauh lebih muda daripada kerang laut dari lapisan di bawahnya.
Mengapa Fosil Hewan Sangiran Sangat Beragam?
Keragaman fauna Sangiran berhubungan dengan perubahan bentang alamnya. Wilayah yang kini berupa perbukitan dan desa pernah menjadi laut dangkal, kawasan pesisir, rawa, dan dataran yang dialiri sungai.
Saat lingkungan berubah, jenis hewan yang hidup di dalamnya juga berganti. Moluska laut muncul ketika wilayah masih dipengaruhi air asin, sedangkan kuda nil dan buaya menunjukkan berkembangnya rawa serta perairan tawar.
Pada periode berikutnya, mamalia darat seperti gajah, kerbau, banteng, rusa, babi, dan badak menjadi lebih banyak. Komposisi tersebut memberi gambaran tentang lingkungan yang menyediakan rumput, semak, pepohonan, serta sumber air.
Fosil fauna juga dapat berpindah sebelum terkubur. Tulang yang ditemukan pada endapan sungai mungkin telah terbawa arus dari lokasi kematian aslinya.
Karena itu, peneliti harus memeriksa kondisi tulang, jenis sedimen, serta benda lain di sekitarnya sebelum menarik kesimpulan.
1. Gajah Purba, Penghuni Raksasa Sangiran
Fosil hewan berbelalai termasuk temuan paling mengesankan di Sangiran. Gigi geraham, bagian tengkorak, tulang kaki, dan gadingnya membantu peneliti mengenali beberapa kelompok gajah purba.
Materi Museum Sangiran memperkenalkan tiga kelompok utama, yaitu mastodon, Stegodon, dan Elephas.
Istilah serta pengelompokan ilmiahnya dapat mengalami penyempurnaan, tetapi ketiganya membantu pengunjung memahami perubahan hewan berbelalai dari masa ke masa.
Mastodon
Mastodon digambarkan sebagai kelompok berbelalai yang lebih primitif. Salah satu ciri yang mudah dikenali dalam materi museum adalah keberadaan sepasang gading di rahang atas serta gading lebih kecil pada rahang bawah.
Hewan ini diperkirakan lebih cocok hidup di kawasan berhutan dan memakan daun, pucuk, serta bagian tumbuhan yang relatif lunak. Bentuk giginya berbeda dari gajah yang terbiasa mengunyah rerumputan keras.
Stegodon
Stegodon merupakan salah satu hewan ikonik dalam pameran Sangiran. Tubuhnya besar, sementara gading bagian atasnya dapat tumbuh sangat panjang.
Materi resmi Museum Sangiran menyebut gading Stegodon dapat mencapai sekitar empat meter. Kelompok ini berkembang di Asia pada kala Pliosen dan Plestosen serta sering dikaitkan dengan kawasan berhutan.
Geraham Stegodon memiliki pola punggung yang dapat digunakan untuk membedakannya dari jenis gajah lain. Gigi geraham merupakan bagian yang cukup sering terawetkan karena keras dan tahan terhadap proses pelapukan.
Elephas
Elephas memiliki hubungan yang lebih dekat dengan gajah modern. Gadingnya cenderung berbeda dari Stegodon, sedangkan gerahamnya memiliki mahkota tinggi yang membantu mengolah rumput, biji, dan tumbuhan lebih keras.
Kemunculan Elephas dapat dikaitkan dengan lingkungan yang semakin terbuka. Ketika hutan berkurang dan padang rumput meluas, hewan dengan kemampuan mengunyah tumbuhan kasar mempunyai keuntungan lebih besar.
2. Kerbau, Banteng, Antelop, dan Rusa Purba
Selain gajah, banyak fosil Sangiran berasal dari hewan berkuku serta bertanduk. Kelompok Bovidae mencakup kerbau, sapi, banteng, dan kerabatnya, sedangkan Cervidae mencakup berbagai jenis rusa.
Kerbau purba Sangiran memiliki tanduk yang dapat tumbuh panjang ke arah samping.
Materi pameran Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menyebut panjang tanduknya dapat mencapai sekitar 1,5 meter. Hewan ini diperkirakan menyukai daerah berlumpur, rawa, semak, dan padang rumput.
Banteng purba memiliki bentuk tanduk yang berbeda. Tanduknya lebih membulat dan melengkung ke atas, sehingga fosil bagian kepala atau inti tanduk dapat membantu peneliti membedakannya dari kerbau.
Sangiran juga menyimpan fosil hewan menyerupai antelop. Materi museum menyebut nama Duboisia santeng dan Epileptobos groenveldtii, yang dapat dibedakan antara lain melalui ukuran serta bentuk tanduknya.
Rusa purba dikenali melalui fragmen tanduk, rahang, gigi, dan tulang anggota tubuh. Keberadaan rusa menunjukkan tersedianya vegetasi yang dapat berupa semak, rumput, maupun kawasan hutan terbuka.
Fosil hewan bertanduk sering ditemukan dalam keadaan terpisah. Peneliti mungkin hanya memperoleh satu gigi atau potongan tanduk, tetapi bagian kecil tersebut tetap dapat memberi informasi tentang jenis, makanan, dan lingkungan hidupnya.
3. Kuda Nil, Bukti Sangiran Pernah Memiliki Rawa Luas
Kuda nil merupakan salah satu hewan Sangiran yang sering mengejutkan pengunjung. Saat ini, kuda nil hidup secara alami di Afrika, tetapi fosil menunjukkan kerabatnya pernah menghuni Pulau Jawa.
Materi resmi fauna Sangiran mengenalkan dua kelompok, yaitu Hexaprotodon dan Hippopotamus. Fosil kuda nil pernah ditemukan di wilayah Bukuran pada 1998 dalam bentuk 109 fragmen.
Temuan tersebut berada dalam endapan lempung hitam Formasi Pucangan yang diperkirakan berusia sekitar 1,2 juta tahun. Lempung dan jenis faunanya menunjukkan bahwa Sangiran ketika itu memiliki kawasan rawa serta perairan yang mendukung kehidupan hewan semiakuatik.
Kuda nil menghabiskan banyak waktu di air, tetapi mencari makanan berupa tumbuhan di daratan. Kehadirannya menjadi bukti bahwa lingkungan Sangiran tidak selalu berupa hutan kering atau padang rumput.
Fosil kuda nil juga membantu peneliti membaca hubungan antara air, vegetasi, dan mamalia besar. Ketika rawa mengering atau aliran sungai berubah, habitatnya pun ikut menyempit.
4. Badak, Babi, dan Pemakan Tumbuhan Lainnya
Fosil badak ditemukan dalam bentuk gigi, rahang, serta bagian tulang tubuh. Dalam catatan koleksi Museum Sangiran, temuan tersebut sering ditulis sebagai Rhinoceros sp. karena tidak semua fragmen cukup lengkap untuk ditentukan hingga tingkat spesies.
Badak membutuhkan vegetasi dan sumber air yang memadai. Bergantung pada jenisnya, hewan ini dapat memanfaatkan daun, ranting, semak, maupun rumput.
Fosil babi purba dari kelompok Suidae juga ditemukan. Babi merupakan hewan yang cukup fleksibel dalam memilih makanan dan habitat, sehingga keberadaannya dapat dikaitkan dengan daerah berhutan, semak, tepian sungai, serta lahan terbuka.
Kajian mengenai lapisan Kabuh menyebut keberadaan Stegodon, Elephas, rusa, Bovidae, badak, babi, dan karnivora. Susunan fauna tersebut menggambarkan ekosistem daratan yang jauh lebih beragam daripada pemandangan Sangiran sekarang.
Namun, ditemukannya beberapa jenis hewan dalam satu formasi tidak selalu berarti semuanya berada di tempat yang sama pada hari yang sama. Formasi tanah dapat mencakup rentang waktu puluhan hingga ratusan ribu tahun.
5. Buaya Purba dan Penguasa Perairan Sangiran
Sangiran juga menyimpan fosil buaya. Dua kelompok yang diperkenalkan dalam materi museum adalah Crocodylus dan Gavialis.
Crocodylus dikaitkan dengan lingkungan pesisir, mangrove, muara, dan perairan yang kemudian berubah menjadi daratan. Sementara itu, Gavialis lebih dikenal sebagai buaya sungai dengan moncong panjang dan sempit.
Bentuk moncong panjang membantu Gavialis menangkap ikan. Gigi serta rahangnya sesuai untuk mencengkeram mangsa yang licin di dalam air.
Fosil buaya Sangiran diperkirakan berasal dari rentang sekitar 1,2 hingga 0,5 juta tahun lalu. Keberadaannya memperlihatkan bahwa sungai dan rawa menyediakan habitat sekaligus sumber makanan yang melimpah.
Bagian tubuh buaya yang dapat menjadi fosil antara lain gigi, rahang, tengkorak, tulang, dan lempeng keras pada kulitnya. Gigi sering lebih mudah bertahan karena tersusun dari material yang kuat.
6. Kura-Kura, Penyu, Ikan, dan Ikan Pari
Tidak semua fauna purba Sangiran berukuran besar. Fosil reptil bercangkang, ikan, dan hewan air berukuran kecil justru sangat penting untuk menjelaskan perubahan lingkungan.
Kura-kura darat dan air tawar menunjukkan keberadaan habitat daratan lembap, rawa, atau sungai. Sementara itu, penemuan tempurung penyu berkaitan dengan periode ketika sebagian wilayah Sangiran masih dipengaruhi laut.
Buku resmi fauna Sangiran menampilkan fosil penyu dari kelompok Chelonia. Temuan tempurung atas dan bawah yang relatif menyatu menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki lingkungan laut.
Fosil ikan dapat berupa tulang, gigi, sisik, atau duri. Dalam koleksi Sangiran juga dikenal fragmen duri ikan pari dari genus Dasyatis, yaitu ikan pari penyengat yang hidup di lingkungan perairan.
Temuan hewan air sering terlihat kecil dan kurang dramatis dibandingkan gading gajah. Namun, bagi peneliti, satu duri ikan atau pecahan tempurung dapat menjadi bukti penting mengenai kadar garam, kedalaman air, serta jenis habitat masa lalu.
7. Ribuan Moluska Menyimpan Petunjuk Perubahan Lingkungan
Moluska adalah kelompok hewan lunak yang mencakup kerang dan siput. Bagian tubuhnya yang lunak mudah membusuk, tetapi cangkangnya dapat bertahan dan berubah menjadi fosil.
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran mencatat sedikitnya sekitar 6.000 fosil moluska telah diidentifikasi. Temuannya mencakup gastropoda atau siput serta bivalvia seperti kerang.
Kajian BRIN terhadap kumpulan cangkang Sangiran mengidentifikasi 46 jenis moluska laut dan 15 jenis moluska air tawar dari sampel yang diteliti. Komposisi tersebut membantu menunjukkan perubahan dari lingkungan laut menuju air payau dan air tawar.
Moluska sangat berguna sebagai indikator karena banyak jenis hanya dapat hidup dalam kondisi tertentu. Ada yang membutuhkan laut terbuka, dasar berlumpur, muara, rawa, atau sungai berarus tenang.
Ketika jenis moluska pada satu lapisan berbeda dari lapisan berikutnya, peneliti mendapat petunjuk bahwa lingkungan telah berubah. Inilah alasan cangkang kecil dapat memiliki nilai ilmiah sebesar tulang mamalia besar.
Apakah Homo erectus Memburu Hewan-Hewan Tersebut?
Homo erectus hidup di Sangiran bersama berbagai mamalia, reptil, dan hewan air. Namun, keberadaan fosil manusia dan hewan dalam kawasan yang sama belum cukup untuk membuktikan hubungan perburuan.
Peneliti membutuhkan bukti tambahan, misalnya bekas potongan alat batu pada tulang, pola pemecahan untuk mengambil sumsum, bekas pembakaran, atau hubungan langsung antara artefak dan sisa hewan.
Sebagian tulang dapat terkumpul akibat banjir, pergerakan sungai, kematian alami, atau aktivitas predator. Tulang manusia dan hewan bahkan dapat berasal dari waktu berbeda lalu berada dalam endapan yang sama karena proses geologi.
Karena itu, gambaran Homo erectus sedang memburu gajah atau kerbau dalam diorama sebaiknya dipahami sebagai rekonstruksi. Diorama membantu membayangkan kehidupan purba, tetapi setiap adegannya tidak selalu berasal dari satu bukti arkeologi yang lengkap.
Apa yang Diceritakan Fosil Fauna tentang Sangiran?
Fosil hewan membantu menunjukkan bahwa Sangiran mengalami perubahan lingkungan besar. Moluska dan penyu berkaitan dengan fase laut, sedangkan kuda nil serta buaya menunjukkan rawa dan sungai.
Stegodon, badak, serta mamalia pemakan daun dapat menunjukkan keberadaan vegetasi rapat. Elephas, kerbau, banteng, dan rusa dapat dikaitkan dengan bentang alam yang lebih terbuka serta kaya rumput.
Perubahan tersebut berpengaruh langsung terhadap manusia purba. Ketika hutan berubah menjadi padang terbuka atau sungai berpindah, Homo erectus harus menyesuaikan lokasi mencari air, makanan, dan bahan alat batu.
Fosil fauna juga membantu menentukan umur relatif lapisan. Kumpulan hewan tertentu dapat dibandingkan dengan temuan dari situs lain di Jawa untuk memahami urutan waktu dan penyebarannya.
Itulah sebabnya penelitian Sangiran tidak hanya berfokus pada tengkorak manusia. Untuk memahami kehidupan Homo erectus, ilmuwan juga harus mempelajari hewan, tumbuhan, tanah, sungai, dan aktivitas vulkanik di sekitarnya.
Melihat Fosil Hewan Purba di Museum Sangiran
Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan menjadi tempat yang tepat untuk mengenal fauna purba. Koleksinya mencakup fosil, replika, rekonstruksi, serta diorama yang menggambarkan lingkungan Sangiran pada masa Plestosen.
Saat melihat fosil, perhatikan bagian tubuh yang dipamerkan. Gigi dapat menunjukkan jenis makanan, tanduk membantu mengenali kelompok hewan, sedangkan bentuk kaki memberi gambaran tentang cara bergerak.
Bacalah informasi mengenai lokasi dan lapisan penemuan. Konteks tersebut menjelaskan apakah hewan hidup di masa lingkungan laut, rawa, hutan, atau dataran sungai.
Pengunjung juga perlu membedakan fosil asli, replika, dan rekonstruksi. Replika dibuat menyerupai temuan asli untuk kebutuhan pendidikan, sementara rekonstruksi melengkapi bagian tubuh berdasarkan penelitian serta perbandingan dengan hewan lain.
Jenis-jenis fosil hewan purba yang ditemukan di Sangiran sangat beragam, mulai dari gajah, kerbau, banteng, rusa, badak, babi, kuda nil, buaya, kura-kura, ikan, hingga ribuan moluska.
Setiap kelompok memberikan petunjuk berbeda mengenai lingkungan Jawa pada masa lampau.
Fosil tersebut menunjukkan perjalanan Sangiran dari laut menuju rawa, sungai, hutan, dan daratan terbuka. Temuannya juga membantu ilmuwan memahami dunia tempat Homo erectus hidup serta beradaptasi.
Saat mengunjungi Museum Sangiran, jangan hanya mencari fosil manusia purba. Perhatikan pula gigi gajah, tanduk kerbau, rahang buaya, dan cangkang kecilnya.
Dari benda-benda itulah kisah ekosistem purba Sangiran dapat dibaca secara lebih utuh.
FAQ
1. Hewan purba apa saja yang ditemukan di Sangiran?
Temuannya mencakup gajah purba, kerbau, banteng, rusa, antelop, badak, babi, kuda nil, buaya, kura-kura, penyu, ikan, ikan pari, serta moluska.
2. Apakah dinosaurus ditemukan di Sangiran?
Tidak. Sangiran terutama menyimpan fauna dari kala Pliosen akhir dan Plestosen. Dinosaurus telah punah puluhan juta tahun sebelum periode tersebut.
3. Apa fosil hewan terbesar di Sangiran?
Fosil gajah purba seperti Stegodon termasuk temuan berukuran terbesar. Bagian yang ditemukan dapat berupa gading panjang, tengkorak, geraham, serta tulang kaki.
4. Mengapa fosil kuda nil ditemukan di Jawa?
Pada masa lalu, kondisi lingkungan serta persebaran hewan berbeda dari sekarang. Sangiran pernah mempunyai rawa dan perairan luas yang sesuai untuk kehidupan kuda nil purba.
5. Apakah semua hewan Sangiran hidup bersama Homo erectus?
Tidak selalu. Fosilnya berasal dari berbagai lapisan dan rentang waktu yang panjang. Sebagian hidup pada masa Homo erectus, sedangkan lainnya berasal dari periode lebih tua atau lebih muda.